Sunday, January 28, 2018


Masyarakat di desa Macajah yang sebagian besar berprofesi menjadi petani merasa kesulitan untuk menjual hasil lautnya di dunia online. Dalam seminar yang diadakan oleh Karang Taruna Desa Macajah mengenai bisnis online, Salah satu produsen Terasi di desa Macajah, H. Abdul Aziz mengaku kesulitan kalau harus membuat inovasi unik untuk di jual online "Disini saja ikannya musiman, apalagi buat yang unik" Ujar pria yang juga kepala dusun Masaran ini.

Menanggapi hal tersebut Pemateri yang juga dosen FEB Universitas Trunojoyo Rakhmawati S.TP MT., mengatakan bahwa harus ada sesuatu yang unik sehingga calon pembeli di dunia online itu tertarik."Kita ini harus buat yang unik seperti bungkus atau bentuknya karena di online itu kan yang dilihat dulu foto barangnya" Katanya.

Untuk membantu membuat hal yang unik, Rakhmawati juga menerangkan bahwa di Universitas Trunojoyo sudah ada bungkus unik yang juga bisa dimakan "Di kampus itu menemukan bungkus untuk terasi dan bungkusnya itu bisa dimakan juga, sekarang lagi tahap pembuatan"

Selain keunikan, Rakhmawati juga menekankan tentang harga dan kejujuran dalam berdagang di dunia online. (Akw)

Di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini, masyarakat dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi. Tidak terkecuali dengan masyarakat di pedesaan. Hari Minggu (28/01/18) Karang Taruna desa Macajah bekerja sama dengan mahasiswa dari Universitas Trunojoyo Madura mengadakan seminar di SMAN 01 Tanjung Bumi.

Dengan tajuk Mengembangkan Potensi Desa Melalui Penjualan Online, masyarakat di desa Macajah Antusias mendengarkan setiap informasi yang diberikan oleh Yudhi Prasetya S.E. MM. selaku pemateri dalam seminar tersebut.

Yudhi mengatakan untuk zaman sekarang ini segala sesuatunya sudah harus masuk ke dalam dunia online "Sekarang ini semua online, apa-apa di onlinekan, jual ikan, makanan, baju semua di online kan"

Pria berkacamata itu juga menambahkan dengan berjualan online, kita tidak perlu membuka toko dan mengurangi biaya operasional. Yudhi juga memberikan 2 syarat yang harus dipenuhi ketika membuat bisnis online "Yang pertama produknya harus unik, yang kedua harga" Sebut pria yang juga pernah menjadi dosen di Universitas Muhammad Surabaya. (Akw)


Minggu pagi (28/01/18) balai desa di datangi beberapa orang yang ternyata pekerja yang akan merenovasi balai desa Macajah. Perencanaan renovasi Balai Desa sudah ada sejak akhir tahun lalu namun menurut kepala desa, H. Sundah SH. Renovasi ini memang direncanakan akan berlangsung di akhir bulan Januari tahun ini. "Dari akhir tahun lalu, sudah ada rencana renovasi namun memang dari rencana itu pelaksanaannya memang dimulai tahun ini" Jelasnya.

Hj. Sundah SH. saat ditemui awal bulan Januari ini mengatakan tidak semua bagian yang di renovasi "Yang di renovasi itu cuman yang sisi timur aja, kalau yang barat itu kan sudah di renovasi tahun lalu, sudah bagus jadi tidak perlu lagi" Katanya.

Ditanya pada saat proses renovasi, salah seorang petugas menyebutkan bahwa renovasi ini ditargetkan akan selesai kurang dari satu bulan "Ini selesai 25 hari lagi, mulainya hari ini." Sebutnya.

Sebelumnya, Balai desa Macajah ini sudah lama memiliki kondisi yang kurang layak. Sejak tahun lalu, Rumput tumbuh tinggi di dalam wilayah balai desa karena kurangnya perhatian dari pihak penjaga balai. (Akw)

Friday, January 26, 2018


Membatik, merupakan salah satu aktifitas peninggalan leluhur yang masih terus ada di desa Macajah. Masyarakat di desa Macajah terus melestarikan kearifan lokal di daerahnya. Dari total enam dusun yang ada, semuanya menjadikan membatik sebagai pekerjaan sampingan selain bertani dan nelayan.

Hal mendasar yang menjadi pondasi membatik bisa eksis hingga saat ini adalah penanaman rasa cinta terhadap batik. Sejak kecil anak-anak di desa Macajah sudah terbiasa melihat orang tuanya membatik.

Dari sisi ekonomi, batik tulis desa Macajah terbilang memiliki harga jual yang relatif murah bagi para pencinta batik tulis. Ditemui di rumahnya pada Jum'at (26/01/18) Hj. Rusmidah sebagai salah satu pengrajin batik tulis dari dusun Nyancangan menyebutkan harga jual batik tulisnya berkisar 100 ribu hingga jutaan rupiah tergantung kerumitan pola dan lamanya proses pembuatan batik itu sendiri.

Pasar dari batik tulis asli desa Macajah ini tidak hanya sekitaran pulau Madura saja. Hj. Rusmidah juga menjelaskan bahwa batiknya sudah sampai di pasar batik Ibu Kota. "Di jualnya ya di Bangkalan, Surabaya sama di Jakarta, semuanya saya sendiri yang kirim." Jelasnya dengan logat Madura  yang kental.

Hj. Rusmidah juga menambahkan bahwa dirinya tiap satu bulan sekali berangkat ke Jakarta sekitar 5 hari untuk mengurus segala keperluan distribusi batik tulisnya ke Ibu Kota.

Atas dasar itulah beberapa mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Macajah tertarik untuk bekerjasama dengan salah satu pengrajin batik tulis di dusun Nyancangan. Koordinator Desa (Kordes) dari kelompok mahasiswa KKN tersebut, Novian Adi Yarno menjelaskan dengan melihat potensi membatik yang ada, dia dan teman-temannya ingin memfasilitasi anak-anak di desa Macajah untuk membatik serta bermain "Program ini kami lakukan untuk memfasilitasi anak-anak disini lebih biar mereka mencintai batik dan membatik dengan hati." Jelasnya. (Akw)

Batik merupakan salah satu kearifan lokal turun menurun masyarakat Desa Macajah yang terletak di Kec. Tanjung Bumi, Kab. Bangkalan. Tanjung Bumi sendiri merupakan kecamatan yang cukup terkenal dengan batiknya, salah satu motif batik yang dikenal masyarakat luas adalah Batik Gentongan.

Menurut salah seorang pengrajin sekaligus pengusaha batik di desa Macajah, tepatnya di dusun Nyancangan Hj. Rusmidah, Batik Gentongan memiliki proses yang cukup panjang hingga memakan waktu 1,5 tahun "kalau batik Gentongan itu, jadinya bisa sampai satu setengah tahun karena proses membatiknya empat kali." Ungkapnya.

Hj. Rusmidah juga menambahkan bahwa warna batik Gentongan tidak akan luntur karena proses memasak hingga 2 bulan lamanya "waktu proses masak, ini di ungkep dulu di tong yang ada pewarnanya selama dua bulan." Jelasnya saat ditemui di rumah beliau.

Karena prosesnya yang panjang, batik Gentongan tidak bisa di produksi setiap saat seperti batik lainnya. Pecinta batik harus memesan sekitar satu tahun sebelum menikmati cita rasa seni kearifan lokal yang ada dalam batik Gentongan tersebut. (Akw)