Tuesday, January 23, 2018

Kesenian tradisional di Desa Macajah tidak terlepas dari macam-macam kesenian tradisional Madura, khususnya yang ada di Tanjung Bumi, Bangkalan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu budayawan Madura yang kini menjabat sebagai Penilik Luar Sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanjung Bumi, beberapa kesenian tradisional yang masih ada di Desa Macajah antaralain:
1.     Musik Sandor (karawitan)




Sandur merupakan hasil budaya masyarakat Madura. Sandur dulu dan sekarang memang berbeda. Dulu Sandur identik dengan hal-hal yang dilarang agama seperti sabung ayam, minum-minuman keras dan aneka perjudian lainnya. Namun Sandur yang sekarang justru sebaliknya, Sandur sekarang merupakan pergelaran seni yang dikemas sederhana dan menarik karena merupakan atraksi budaya yang menghibur, sekaligus asset daerah yang patut dilestarikan
Tidak sampai di situ saja, melalui pergelaran Seni Sandur ini diharapkan pergelaran seni ini sebagai wadah pemersatu masyarakat Ketapang.Sementara itu, sesepuh tokoh masyarakat Madura Ketapang, H Abdullah Yasin, mengatakan digelarnya Seni Sandur ini merupakan aktualiasasi peninggalan nenek moyang masyarakat Madura.
Kesenian sandur juga berkembang di Desa Macajah. Kesenian ini dimainkan ketika warga memiliki hajatan atau sejenisnya.  Penari Sandur muncul dengan diiringi alunan musik tradisional. Sembari diikuti para masyarakat yang hadir. Sembari memberikan sejumlah uang kepada sang penari.
Para penari sandur adalah sosok pria yang dibalut keanggunan pakaian wanita. Bahkan tak jarang satu persatu anggota masyarakat ikut menari sesuai alunan musik tradisional dan diikuti tepuk tangan masyarakat lainya. Menurut Tokoh Madura Ketapang, H Mathoji, seni Sandur ini merupakan peninggalan budaya sejak zaman dulu.
Eksistensi Sandur sebagai seni  musik  klasik khas madura ini sudah jarang ditemui  padahal  tembang yang dinyanyikan banyak mengandung nasehat dan pesan dari orang tua terhadap anak (nak kanak ngudeh). Padahal, kesenian sandur menanamkan budi pekerti sejak dini melalui syair-syair yang erat kaitannya dengan unsur pendidikan, dalam prinsip madura metode ini dilakukan untuk mengajarkan bagaimana caranya agar generasi penerusnya menjadi orang baik, bukan menjadi orang jahat yang memanfaatkan hak orang lain untuk hajat hidup sendiri (koruptor,pencuri dll).
Ada perbedaan dalam pementasan sandur  setiap daerah dimadura yakni dari segi bahasa perbedaan terdapat pada dialog dan lakon ceritanya, semakin keras bahasa  itu maka seperti itulah bahasa yang mereka gunakan untuk berdialog dalam pementasan layaknya teater dengan narasi berbentuk syair namun tidak mengurangi makna sebagai hiburan yang kita dengarkan nasehat bijaknya.
2.     Hadrah/ Habsian


Istilah haddrah dan hadrah berasal dari bahasa Arab. Yaitu “hadir” atau “hadlir” yang mengacu kepada kehadiran di hadapan Allah. Haddrah kadang-kadang ditulis hadrah, tetapi ejaan yang pertama adalah ejaan Madura (Helena Bouvier : 214). Kesenian haddrah atau yang juga disebut habsian merupakan salah satu kesenian islami yang sering dimainkan warga Macajah, terutama ketika ada hajatan atau pengajian umum.
Killiaan mencatat “Hadrah” pujian kepada Allah dengan iringan tambur kecil. Istilah ruddad mengaju sekaligus pada sahutan paduan suara kepada pemimpin pertunjukan yang juga penari-penyanyi, yaitu hadi, serta gerak tari yang menyertai paduan suara itu.
Kesenian ini konon diciptakan oleh seorang ulama di madinah atau di mekkah.  Namun, Pigeaud tidak mencatat penyebaran kesenian ini sampai ke Madura. Namun, Sunario, ahli hadrah dari Sumenep tahun 1929 telah mengenal HadrahSamman, dan Gambus sejak muda. Di Sumenep pula, ada guru dari sumenep Zainal Arifin dan A. Bin Ta’lab. Tokoh ini sering menciptakan lagu baru dan merekamnya di dalam kaset. Kreasinya ini kemudian ditiru oleh beberapa kelompok di sekitar Sumenep dan di luar Sumenep.
Bahkan setiap Molod Nabbi (Maulid Nabi), setiap tahun selalu diadakan kompetisi hadrah antar semua kelompok hadrah di Sumenep yang kemudian dikompetisikan di Masjid Besar Sumenep. Di luar Sumenep sendiri, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, jenis musik ini masih eksis terutama di Ponpes Syaichona Kholil Demangan atau di Lebak Bangkalan dan  di Dusun Keramat Ujung Piring Bangkalan.

3.     Tarian Soto Madura


Tarian Soto Madura dilakukan secara berpasangan, yaitu laki-laki dan perempuan. Tarian ini sering dimainkan ketika warga desa menggelar acara-acara hajatan atau sejenisnya. Sampai saat ini, tarian soto Madura masih dipertahankan oleh masyarakat Madura, khususnya yang ada di Desa Macajah, Tanjung Bumi, Bnagkalan.

4.     Alat Musik Tok-tok

        Musik Taal disebut musik tok-tok karena saat Taal dipukul dengan bambu berbunyi tok-tok. Taal kerap kali ditemukan di beberapa kebun. Namun ketika dibikin alat musik dengan ditabuh oleh ribuan orang melahirkan nada yang atraktif.
Tok-tok ta’al merupakan jenis alat musik perkusi tradisional Madura. Alat musik ini terbuat dari batok pelindung buah siwalan yang dikeringkan, dan pada ujungnya dibuat lubang berbentuk lonjong. Kemudian dicat dengan warna-warna menarik. 
Alat musik ini disebut tok-tok ta’al karena mengeluarkan suara “tok.. tok.. tok..” saat dipukul dengan stik bambu. Sedangkan ta’al berarti buah siwalan dalam bahasa Madura. Maka alat musik ini disebut Tok-tok Ta’al. Tok-tok dimainkan anak-anak untuk membangunkan warga untuk makan sahur. Mereka menabuh tok-tok sambil bernyanyi lagu-lagu Madura berkeliling kampung.
Alat music tok-tok masih banyak dimainkan oleh warga desa Kecamatan Tanjung Bumi, khususnya yang ada di Desa Macajah. Tidak hanya dimainkan oleh anak-anak untuk membangunkan orang sahur, namun juga dimainkan oleh orang dewasa untuk mengiringi gelaran musik dalam acara-acara besar. (kkntahun2016/akw)

0 comments:

Post a Comment