Friday, January 26, 2018


Membatik, merupakan salah satu aktifitas peninggalan leluhur yang masih terus ada di desa Macajah. Masyarakat di desa Macajah terus melestarikan kearifan lokal di daerahnya. Dari total enam dusun yang ada, semuanya menjadikan membatik sebagai pekerjaan sampingan selain bertani dan nelayan.

Hal mendasar yang menjadi pondasi membatik bisa eksis hingga saat ini adalah penanaman rasa cinta terhadap batik. Sejak kecil anak-anak di desa Macajah sudah terbiasa melihat orang tuanya membatik.

Dari sisi ekonomi, batik tulis desa Macajah terbilang memiliki harga jual yang relatif murah bagi para pencinta batik tulis. Ditemui di rumahnya pada Jum'at (26/01/18) Hj. Rusmidah sebagai salah satu pengrajin batik tulis dari dusun Nyancangan menyebutkan harga jual batik tulisnya berkisar 100 ribu hingga jutaan rupiah tergantung kerumitan pola dan lamanya proses pembuatan batik itu sendiri.

Pasar dari batik tulis asli desa Macajah ini tidak hanya sekitaran pulau Madura saja. Hj. Rusmidah juga menjelaskan bahwa batiknya sudah sampai di pasar batik Ibu Kota. "Di jualnya ya di Bangkalan, Surabaya sama di Jakarta, semuanya saya sendiri yang kirim." Jelasnya dengan logat Madura  yang kental.

Hj. Rusmidah juga menambahkan bahwa dirinya tiap satu bulan sekali berangkat ke Jakarta sekitar 5 hari untuk mengurus segala keperluan distribusi batik tulisnya ke Ibu Kota.

Atas dasar itulah beberapa mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Macajah tertarik untuk bekerjasama dengan salah satu pengrajin batik tulis di dusun Nyancangan. Koordinator Desa (Kordes) dari kelompok mahasiswa KKN tersebut, Novian Adi Yarno menjelaskan dengan melihat potensi membatik yang ada, dia dan teman-temannya ingin memfasilitasi anak-anak di desa Macajah untuk membatik serta bermain "Program ini kami lakukan untuk memfasilitasi anak-anak disini lebih biar mereka mencintai batik dan membatik dengan hati." Jelasnya. (Akw)

0 comments:

Post a Comment