Saturday, January 20, 2018


Sebelum menjadi salah satu desa di wilayah administratif Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Desa Macajah memiliki sejarah panjang dalam menjalankan roda pemerintahan desa. Berdirinya Desa Macajah dimulai ketika Pemerintah Hindia Belanda berkuasa sekitar tahun 1900-an.

Menurut penuturan seorang saksi sejarah, Desa Macajah merupakan gabungan dua desa, yaitu Desa Pacajah dan Desa Budduk (sekarang menjadi Dusun Budduk). Awalnya, kedua desa memiliki kepala desa masing-masing. Desa Pacajah dipimpin oleh seorang klebun bernama Bangok, sementara Desa Budduk dipimpin oleh Batung.

Sekitar tahun 1921, Pemerintah Hindia Belanda menyatukan kedua desa menjadi satu desa bernama Macajah. Kata macajah sendiri dalam Bahasa Madura berarti: pecah menjadi dua. Yang artinya, Desa Macajah berasal dari pecahan dua desa. Desa Macajah sendiri terbagi menjadi 6 dusun, yaitu: Budduk, Guweh, Dabbung, Pangalangan, Masaran, dan Nyancangan.

Belanda membebaskan warga Macajah menentukan kepala desanya sendiri. Akhirnya, melalui pemilihan umum yang diselenggarakan secara langsung oleh warga, Batung yang sebelumnya memimpin Desa Budduk terpilih kembali menjadi kepala desa Macajah. Dia pun diberi gelar Wongso Truno yang artinya orang yang dapat dipercaya.

Setelah Batung lengser, digantikan oleh seorang kepala desa bergelar Wongso Diputra. Dia memerintah Desa Macajah selama 33 tahun, dan kemudian digantikan oleh Munilam yang memimpin selama 22 tahun. Pada zaman pemerintahan Munilam, kehidupan rakyat Macajah makmur dan sejahtera serta kordinasi antara masyarakat dengan pemerintahan terjalin dengan baik.

Setelah Munilam lengser, kursi kepala desa diduduki  oleh Timbang yang memimpin Desa Macajah selama 20 tahun (1985-2005). Hingga akhirnya, dilakukan pemilihan umum setelah berakhirnya kepemimpinan Munilam. Dari pemilihan tersebut, H. Sundah, SH terpilih sebagai kepala desa dan memimpin sejak tahun 2005-sekarang.

0 comments:

Post a Comment